Freeport bangkit lagi karena Papua

Perusahaan asal Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc., kini menjadi salah satu raksasa bisnis pertambangan di dunia. Tak bisa dipungkiri bahwa kekayaan alam yang terkandung di tanah Papua, Indonesia, menjadi sumber mereka meraih keuntungan yang luar biasa besar.

Namun tahukah Anda bahwa perusahaan ini sempat hancur? Dan Papua-lah yang menyelamatkan riwayat hidup mereka.


Cerita sejarah ini diungkap oleh Lisa Pease dalam artikelnya, JFK, Indonesia, CIA, and Freeport di majalah Probe, 1996, yang juga tersimpan di National Archieve, Washington DC, seperti tertulis dalam buku Freeport Papua Blok Cepu Gas Alam Arun, C'Mon, Mister, Please, Keruklah Hasil Bumi Indonesia karya Wawan Tunggul Alam, 2011.

Wawan menuliskan bahwa pada 1959, Kuba mengalami revolusi atau peralihan kekuasaan secara drastis. Fidel Castro naik sebagai pemimpin negeri setelah berhasil menggulingkan kekuasaan rezim Batista.

Castro lalu menasionalisasikan seluruh perusahaan asing di Kuba termasuk Freeport yang saat itu masih bernama Freeport Sulphur. Padahal, disebutkan bahwa Freeport saat itu baru saja hendak melakukan produksi perdana biji nikel yang sudah siap dikapalkan. Kondisi ini membuat mereka di ambang kematian.

Lalu pada Agustus 1959, Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson bertemu dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, perusahaan pertambangan, Jan van Gruisen. Gruisen bercerita mengenai temuannya yang tak disengaja tentang Gunung Erstberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy tahun 1936. Wilson pun antusias.

Laporan ini Dozy itu dikatakan sebetulnya sudah tersimpan bertahun-tahun. Bahkan kondisinya tidak terawat, berdebu, terselip dan terbengkalai di perpusatakaan Belanda. Namun, di dalamnya terdapat informasi yang begitu berharga mengenai Gunung Erstberg itu.

Selain menakjubkan karena keindahan alamnya, gunung itu juga memiliki kandungan biji tembaga yang terhampar luas di permukaan tanah. Mendengar itu, Wilson yang juga pakar pertambangan, tertarik dan berniat untuk membuktikan langsung. Dengan penuh semangat, ia kemudian melakukan penelitian langsung.

Wilson pun menjelajah kawasan Gunung Erstberg selama beberapa bulan. Perjalanannya ini kelak ditulis dalam bukunya The Conquest of Cooper Mountain.

Ketika tiba, Wilson terperanjat menyaksikan kekayaan biji tembaga yang terhampar luas di atas permukaan tanah. Ia berkata, apa yang ia lihat itu adalah keajaiban alam yang tak akan ditemui di daerah mana pun di dunia.

Dalam laporannya, Wilson menulis suatu hal yang tak lazim yakni terjadinya proses mineralisasi di kawasan yang begitu tinggi, lebih 2.000 meter di atas permukaan laut terdapat sekitar 40 sampai 50 persen biji besi, dan 3 persen tembaga, serta masih terdapat perak dan emas. Dan menurutnya, angka 3 persen itu saja sudah cukup menguntungkan bagi industri tambang.

Wilson kemudian mengkalkulasi. Terdapat 13 juta ton biji tembaga di permukaan tanah dan 14 juta ton di bawah tanah dengan kedalaman 100 meter. Jika untuk memproses 5.000 ton biji tembaga/hari dibutuhkan investasi 60 juta dolar AS, dengan rincian biaya produksi 16 sen/pon, sementara harga jual 35 sen/pon, maka dalam tempo 3 tahun saja investasi itu sudah bisa balik modal.

Tapi dikatakan, pada kenyataannya kelak, Freeport lebih tercengang lagi karena angka deposit biji tembaga itu ternyata jauh lebih besar dari kalkulasi Wilson.

Bung Karno Jatuh

Wawan melanjutkan tulisannya. Kegembiraan eksekutif Freeport ternyata hanya sesaat. Sebab, ketika proyek tambang itu akan dimulai, hubungan Indonesia-Belanda memasuki masa genting bahkan mendekati perang.

Presiden Sukarno mulai mendaratkan pasukannya di Irian Barat. Celakanya lagi, Presiden Amerika Serikat kala itu, John F Kennedy malah lebih memihak Indonesia dan berniat memberi bantuan sebesar 11 juta dolar AS. Ini membuat bos-bos Freeport jengkel.

Tak lama setelah Kennedy tewas tertembak pada 22 November 1963, Freeport bangkit kembali. Pengganti Kennedy, Presiden Johnson merombak kebijakan dan bantuan luar negeri Amerika Serikat, termasuk mengurangi bantuan ekonomi terhadap Indonesia kecuali untuk TNI.

Tahun 1965, situasi politik di Indonesia semakin memanas. Indonesia dan Amerika Serikat pun terlibat konflik. Sampai-sampai Bung Karno menyatakan "Go to hell with your aid!" pada negara super power tersebut.

Sampai kemudian meletus peristiwa Gerakan 30 September 1965. Secara perlahan namun pasti, Bung Karno jatuh dari kekuasaan akibat kudeta merangkak yang dilakukan Angkatan Darat yang dikomandoi oleh Jenderal Soeharto. Seluruh kekuatan sosial politik yang mendukung garis politik Bung Karno, khususnya dari Partai Komunis Indonesia, dihabisi.

Begitu naik tahta menjadi Presiden, Soeharto lalu mengumpulkan para ekonom untuk mencari utang ke luar negeri. Digelarlah suatu konferensi di Jenewa pada November 1967 oleh para negara kapitalis.

Indonesia akhirnya mendapatkan utang. Freeport pun mendapatkan bukit di Timika, Papua, dan perusahaan asing lainnya mendapat bagiannya masing-masing.

Untuk melindungi dan mengamankan investasi bangsa asing, pemerintah Soeharto menerbitkan UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA). Perusahaan asing yang pertama kali kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport.

Tahun 1980, Freeport bergabung dengan McMoRan, perusahaan eksplorasi dan pengembangan minyak) yang dinahkodai "Jim Bob" Moffet. Freeport McMoRan sangat cepat menapak menjadi raksasa dunia, dengan keuntungan diperkirakan lebih dari 1,5 miliar dolar AS/tahun.

Dalam buku "Grasberg", tahun 1996, karya George A. Mealey, disebutkan bahwa saat ini Freeport McMoRan merupakan tambang tembaga yang mempunyai deposit ketiga terbesar di dunia. Sedangkan untuk emas menempati urutan pertama.

Persoalan Freeport kini menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat. Semua berawal dari aksi sensasional Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said yang mengungkapkan dan melaporkan Ketua DPR Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Sudirman menuduh Novanto mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden, serta meminta saham pada Freeport ketika bertemu dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin.

Novanto pun mempersoalkan karena merasa dizalimi dan menduga perkaranya itu melibatkan aparat dari Badan Intelijen Negara (BIN). Sedangkan, data menunjukkan bahwa Maroef pernah menjabat sebagai Wakil Kepala BIN.

Sumber : viva.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Emas Logam Mulia |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.