Dinar sebagai tolak ukur kemakmuran dan Perencanaan Keuangan

Ada seorang teman yang saya kenal baik sejak tahun 1990-an hingga kini, karena kedekatan tersebut dia cukup leluasa mengungkapkan segala problem financial-nya ke saya. Pada tahun 1995 dia diangkat menjadi manager di perusahaan asing dengan penghasilan sekitar Rp 10 juta per bulan; kini dia  direktur di salah satu group perusahaan besar dengan gaji Rp 100 juta-an per bulan !. Yang jadi pertanyaan dia ke saya adalah mengapa dengan gaji 10 kali lipat dibandingkan dengan gaji dia tahun 1995, dia tidak merasakan adanya peningkatan kemakmuran selama 15 tahun ini ?.

Disinilah problem yang terjadi dengan uang kertas, karena nilainya yang terus bergerak turun – angka di penghasilan kita bisa saja terus meningkat tetapi tidak berarti daya beli riil kita juga meningkat. Untuk bisa melihat daya beli riil kita, kita harus menggunakan timbangan yang juga benda riil – salah satunya adalah Dinar. Untuk melihat situasi financial teman saya tersebut diatas misalnya, kita dengan mudah dapat gunakan tabel dibawah.

Estimasi Harga Dinar 1970-2010

Penghasilan dia tahun 1995 yang Rp 10 juta saat itu kurang lebih setara dengan 82.29 Dinar. Dengan harga Dinar pagi ini dikisaran Rp 1,873,014,-/Dinar , penghasilan dia yang Rp 100 juta hanya setara dengan 53.39 Dinar !. Jadi setelah bekerja 16 tahun lebih dengan penghasilan dalam Rupiah yang sudah meningkat 10 kali lipat, tentu saja sang direktur tidak merasakan peningkatan kemakmuran karena daya beli riil dia selama ini bukannya naik tetapi malah turun.

Mengapa harga Dinar ini lebih akurat untuk mengukur daya beli riil kita ketimbang data inflasi di negara maju sekalipun ?; adalah sejarah ribuan tahun yang membuktikan hal ini. 1 Dinar di jaman Rasulullah SAW dapat untuk membeli 1 ekor kambing kurban yang baik, kini dengan 1 Dinar yang sama Anda tetap dapat memilih kambing kelas A untuk ber-kurban. Bila Dinar stabil daya belinya terhadap kambing, tentu dia juga memiliki daya beli stabil untuk kebutuhan kita lainnya.

Dengan menggunakan tabel yang sama, Anda juga dapat mengukur kinerja financial Anda dalam perjalanan karir Anda selama ini – jangan-jangan tanpa Anda sadari - Anda juga menjadi korban penurunan daya beli seperti teman saya tersebut. Lantas apa manfaatnya mengetahui kondisi riil kita ini ?. Bila kita berhasil mengidentifikasi masalahnya, maka ada kemungkinan kita bisa memperbaiki situasinya. Sebaliknya bila kita tidak tahu masalahnya, tentu akan sulit untuk mencari pemecahannya.

Untuk kasus teman saya tersebut misalnya; dengan penghasilannya sebagai direktur yang sekarang mendekati 60 Dinar per bulan – memang lebih rendah dari penghasilan dia sebagai manager tahun 1995 yang diatas 80 Dinar per bulan; tetapi sesungguhnya dia masih mampu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk diinvestasikan di sektor riil.

Apa dampaknya bila dia tidak melakukan action ini sekarang ?, penghasilan dia akan semakin menurun kedepan (dalam Dinar) padahal dia semakin  dekat ke usia pensiun yang kurang dari 10 tahun mendatang. Bila ini terjadi, maka dari sisi financial dia tidak akan lebih baik dari posisi financial dia di masa mudanya. Inilah mayoritas yang dialami oleh pegawai di sektor apapun pada tingkat apapun – bila dia tidak mulai mengambil aksi investasi pada bentuk-bentuk investasi yang bisa mengalahkan penurunan daya beli mata uang kertas.

Bentuk investasi sektor riil yang sederhana tetapi akan mampu mengalahkan penurunan daya beli mata uang salah satunya adalah perdagangan.

Bila Anda berdagang beras misalnya. Anda mengambil dari Cianjur dan menjualnya di Jakarta dengan keuntungan bersih 10 %, maka keuntungan Anda yang 10 % dari harga beras ini akan mampu melawan inflasi atau penurunan daya beli mata uang karena ketika inflasi itu terjadi harga beras otomatis naik dan penghasilan Anda juga otomatis naik – seiring kenaikan harga beras.

Bila sekarang Anda mulai menjual 1 ton beras per bulan, 10 tahun lagi mampu menjual 10 ton beras per bulan, maka kenaikan penghasilan Anda akan merupakan kenaikan penghasilan yang riil karena dikaitkan langsung dengan daya beli terhadap beras – bukan kenaikan semu hanya dalam angka seperti dalam contoh kasus teman saya tersebut diatas.

Jadi mengenal yardstick atau tolok ukur yang benar, bisa menjadi awal Anda untuk membuat perencanaan keuangan masa depan yang lebih akurat dan memakmurkan.

Sumber : GeraiDinar.com

Jika anda ingin berbagi, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link di bawah ini! Terimakasih.
Bookmark and Share

Baca juga artikel terkait di bawah ini :
1. Bagaimana menguji keaslian emas
2. Sejarah Emas
3. Menjadi kaya dengan investasi emas

Prediksi harga emas di masa depan

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apakah harga emas akan naik lagi setelah mencapai angka tertinggai pada tahun 2011 ini? Sehingga banyak yang terburu-buru menjual emasnya, baik dalam bentuk perhiasan, koin, emas batangan bahkan kawat gigi emas. Betulkan emas tidak akan naik lagi?

Para ahli emas dunia yang memprediksi harga emas di masa depan. Mereka sangat berkompeten di bidangnya masing-masing. Ada baiknya kita cari jawabannya pada beberapa ahli di bawah ini.

Alf Field yang dikenal sebagai WOrld's Best Gold Analyst memprediksi harga emas akan bertengger pada US$ 5,000/Oz - US$ 10,000/Oz (tiga kali lipat sampai 4 kali lipat dari harga tahun 2010). Ia mengacu pada trend tahun 70-an dan 80-an di mana harga emas melonjak 24,3 x dalam 1 dekade. Kenaikan ini akan mencapai US$ 6,221/Oz yang merupakan perkalian harga terendah dekade ini US$256 x 24.3. Penyebab kenaikan ini akibat krisis yang disebut sebagai sistemic meltdown, dan pemerintah dunia mengalirkan uang kertas untuk mengatasi krisis ekonomi yang justru membawa dampak pada penurunan nilai uang kertas.

Peter Schiff, Presiden dan Chief Global Strategist dan Euro Pacific Capital. Ia memprediksi harga emas akan mencapai US$ 5,000/Oz - US$ 10,000/Oz dalam 5 hingga 10 tahun mendatang (tiga kali lipat hingga 4 kali lipat dari harga tahun 2010). Ia meramalkan masyarakat dunia akan tertarik untuk berinvestasi emas karena takut akan inflasi atau penurunan nilai uang kertas yang terjadi akibat krisis ekonomi.

Egon von Greyerz,  Managing Director dari Matterhom Asset Management - Swiss. Ia mengatakan harga emas akan mencapai US$ 5,000/Oz hingga US$ 10,000/Oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya adalah : pertama bila real inflation seperti yang ditampilkan oleh Shadowstats.com digunakan untuk mengukur harga  emas yang wajar, maka harga emas akan berkisar 6 kali dari harga saat ini. Alasan kedua : realistis bahwa persediaan emas yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi permintaan emas yang tumbuh lebih cepat.

David Rosenberg, Mantan Merril Lynch Economist yang kemudian menjabat Chief Economist & Strategist di Gluskin  Scheff, memberikan prediksi harga akan berada antara US$ 3,000/Oz dalam waktu dekat (dua setengah kali lipat dari harga tahun 2010). Alasannya berdasar pada rasio harga emas dan GDP tiga dekade belakangan, harga emas seharusnya berada pada US$ 5,300/Oz. Bila disetarakan dengan CPI (Consumers Price Index), maka harga emas seharusnya sudah berada pada kisaran US$ 2,300/Oz. Bila rasio yang digunakan adalah rasio harga emas dengan jumlah uang M1 (sebagai ukuran bagi para ekonom untuk menghitung jumlah uang yang beredar. M1 adalah ukuran jumlah uang beredar yang sangat liquid  karena mengandung kas dan aktiva yang dapat dikonversi ke mata uang dengan mudah), maka harga emas harusnya sudah berada pada angka US$ 3,100/Oz.

Arnold Bock, komentator pada situs emas paling terkenal di dunia Kitco.com memprediksi harga emas akan naik secara parabolik sampai mencapai US$ 10,000 pada tahun 2012. Ia beralasan sebagai berikut :
Kegagalan pemerintah membayar utang;
Bangkrutnya raksasa-raksasa financial dunia;
Inflasi dan devaluasi mata uang dunia;
Menipulasi harga emas sehingga masih rendah sekarang ;
Keterlibatan supply emas dibandingkan dengan peningkatan demand-nya;
Kebutuhan untuk dana-dana di tempat yag aman atau safe heaven.

Peter Cooper, seorang penulis buku Dubai Sabbatical: The Road to US$ 5,000 Gold, memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 5,000/Oz dalam waktu yang tidak terlalu lama. Alasannya adalah saat ini para pemerintah di dunia memaksakan rezim suku bunga yang rendah untuk mengatasi krisis; pada saat suku bunga rendah - obligasi pemerintah menjadi menarik. Namun situasi ini tidak akan bertahan lama, obligasi akan segera jatuh dan orang perlu pelarian uangnya ke tempat yang aman. Tempat yang aman itu adalah emas. Sedangkan persediaan  emas selalu terbatas, maka bila ada lonjakan permintaan - yang pasti terjadi adalah lonjakan harga.

Nah, sekarang bagaimana menurut Anda?

Amir Kiat
Jika anda ingin berbagi, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link di bawah ini! Terimakasih.
Bookmark and Share

Baca juga artikel terkait di bawah ini :
1. Emas sebagai penangkal inflasi
2. Emas cukup untuk seluruh umat manusia tetapi....
3. Belajar dari krisis Dubai

Wafatnya Osama bin Laden, harga emas naik

Harga emas sempat menguat mencetak rekor terbarunya di level USD1.579 per ounce usai kabar tewasnya pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (3/5/2011), harga emas di pasar spot parkir di USD1.544,86 per ounce. Sebelumnya, pada perdagangan Senin 92/5/2011), harga komoditas safe haven ini bergerak volatil di USD1.540,39 per ounce dan level tertinggi di USD1.579,75 per punce.

Sementara harga emas di pasar berjangka turun 0,8 persen menjadi USD1.545,10, naik dari intraday terendahnya di USD1.516,20.

Harga emas tasmpak tarik ulur pada hari Senin setelah berita kematian Osama bin  Laden dalam aksi yang dipimpin AS. Penurunan premi risiko untuk pasar komoditas hanya jangka pendek saja. Di mana emas dan minyak ini dikhawatirkan menjadi sumber pendanaan Al-Qaeda.

Sementara harga perak anjlok 8,5 persen pada hari Senin, merupakan penurunan harian terbesar sejak Desember 2008. Tapi, pagi ini harga perak naik tipis 0,4 persen menjadi USD44,07.

Sumber : http://okezone.com

Jika anda ingin berbagi, silakan share ke teman FACEBOOK anda. Cukup dengan meng-KLIK link di bawah ini! Terimakasih.
Bookmark and Share

Baca juga artikel terkait di bawah ini :
1. Menghadapi krisis dengan investasi emas
2. Enam alasan kenapa kita justru butuh emas di era ekonomi global
3. Perang terhadap emas


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Emas Logam Mulia |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.